BUAT BELAJAR AGAMA: TEMA APP 2015
SURAT GEMBALA
PRAPASKAH 2015
“TIADA SYUKUR TANPA
PEDULI”
14/15 Februari 2015
Para Ibu dan Bapak,
Para Suster dan Bruder, Para Imam
dan Frater.
Kaum Muda, Remaja dan Anak-Anak
yang terkasih dalam Yesus Kristus,
1. Bersama-sama dengan seluruh
Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Selama
masa Prapaskah kita diajak untuk secara khusus menyiapkan diri agar kita
masing-masing, keluarga dan komunitas kita dapat mengalami Paskah yang sejati, Paskah yang membaharui
kehidupan. Masa Prapaskah adalah masa peziarahan rohani yang akan menjadi
semakin bermakna kalau ditandai dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih
yang tulus. Dengan demikian kita dapat memetik buah-buah penebusan yaitu hidup
baru yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Hidup baru itu akan membuat
kita mampu menjalankan nasehat Rasul Paulus, yaitu agar kita melakukan segala
sesuatu hanya demi kemuliaan Tuhan :”Jika engkau makan atau minum, atau jika
engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu demi kemuliaan
Allah” (1 Kor 10:31). Kita juga berharap, khususnya melalui olah rohani selama
masa Prapaskah ini, kita semakin mencapai “kedewasaan penuh, dan tingkat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13).
2. Masa Prapaskah tahun ini kita jalani ketika
kita merayakan Tahun Syukur Keuskupan Agung Jakarta. Dalam rangka Tahun Syukur itu,
semboyan yang ingin kita dalami adalah “Tiada Syukur Tanpa Peduli”. Semboyan
ini mencerminkan dinamika hidup beriman kita yang kita harapkan menjadi semakin
ekaristis. Dalam perayaan Ekaristi kita mengenangkan Yesus yang “mengambil
roti, mengucap syukur, lalu
memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya”. Dengan
demikian jelas bahwa bentuk syukur yang paling sesuai dengan teladan Yesus
adalah kerelaan untuk “dipecah-pecah dan dibagikan”, seperti roti ekaristi.
Panitia Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta telah menyiapkan
bahan-bahan yang sangat memadai untuk mendalami makna semboyan “Tiada Syukur
Tanpa Peduli”. Keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan bersama yang sudah disiapkan
pastilah akan memperkaya, meneguhkan dan menjadikan hidup kita pujian bagi
Tuhan dan berkat bagi semakin banyak orang. Kalau Anda karena berbagai alasan,
tidak mungkin mengikuti pertemuan-pertemuan pendalaman iman bersama-sama,
Panitia Aksi Puasa Pembangunan juga sudah menyediakan bahan “Retret Agung Umat
: Perjalanan Rohani Menanti Kebangkitan” yang dapat digunakan secara pribadi.
Saudari dan saudaraku yang
terkasih,
3. Kisah Injil yang diwartakan
pada hari ini (Mrk 1:40-45) mengajak kita untuk belajar dari Yesus dalam mengembangkan
sikap peduli.
3.1. Orang kusta yang diceritakan
dalam Injil adalah orang yang tersingkir, orang yang dipinggirkan dalam
masyarakat. Penyingkiran ini mempunyai sejarah yang panjang. Ada waktunya – sebelum
masa pembuangan, ketika Umat Allah Perjanjian Lama masih merdeka – penyingkiran
orang kusta melalui peraturan-peraturan keras tidak dikenal. Baru ketika mereka
tinggal di pembuangan dan bergaul dengan orang-orang yang mempunyai
peraturan-peraturan mengenai orang kusta, mereka mengambil alih peraturan itu
dan diterapkan bagi umat. Peraturan itu amat keras, sebagaimana dikatakan dalam
Kitab Imamat :”Orang yang sakit kusta harus berpakaian cabik-cabik, dan
rambutnya terurai. Ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru : Najis!
Najis!” (13:45), supaya orang lain yang berjumpa atau berada dekat dengan dia menyingkir
agar tidak ketularan najis.
3.2. Sementara itu secara jasmani
orang kusta dapat sembuh. Namun tidak cukup bahwa ia sembuh. Untuk diterima
kembali dalam masyarakat dan ikut dalam perayaan suci kesembuhannya harus
dinyatakan secara resmi oleh imam (Im 14:2-32). Itulah sebabnya Yesus
mengatakan kepada orang yang disembuhkan-Nya untuk memperlihatkan diri kepada
imam. Tetapi proses itu tidak mudah : para imam sulit dijumpai – apalagi ketika
ibadah dipusatkan di satu tempat – dan syarat-syaratnya pun sulit dipenuhi oleh
orang-orang sederhana.
3.3. Dengan demikian lengkaplah
penderitaan yang ditanggung oleh orang kusta itu. Melihat orang yang menderita
seperti itulah hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (Mrk 1:41). Inilah
sebentuk kepedulian yang amat nyata. Selanjutnya sesudah orang kusta itu
disembuhkan, dikatakan bahwa Yesus “menyuruh orang itu pergi dengan peringatan
keras” (ay 43). Apa maksudnya? Salah satu cara baru untuk memahami hal ini
ialah dengan memperhatikan keadaan pada waktu itu, sebagaimana sudah
disampaikan. Sering para imam yang berwenang menyatakan orang kusta sudah
sembuh - dengan demikian dapat diterima
kembali ke dalam masyarakat dan ikut serta dalam upacara-upacara suci - ,
kurang bersedia melakukannya. Yang sebenarnya jelas dan mudah, menjadi sulit.
Wajarlah bahwa Yesus kesal dan berkata keras. Ia sangat kecewa karena imam yang
seharusnya membantu orang kusta itu
untuk mengalami dan mensyukuri kesembuhannya, malahan menghalanginya. Inilah
bentuk kepedulian Yesus yang lain.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
4. Orang kusta yang diceritakan
dalam Injil adalah wakil dari sekian banyak saudari-saudara kita yang
terpinggirkan pada zaman kita sekarang ini. Mereka itu misalnya adalah
saudari-saudara kita yang tidak mempunyai Akte Kelahiran atau Kartu Tanda
Penduduk, sehingga tidak bisa memperoleh hak-hak mereka sebagai warga negara;
saudari-saudara kita yang dicap dengan stigma yang menutup kemungkinan untuk
mengembangkan diri; atau yang lebih kasat mata, mereka yang tinggal di jalanan
atau di gerobak-gerobak sampah, yang menjadi korban perdagangan manusia, dan
mereka yang secara umum bisa disebut direndahkan martabat pribadinya sebagai
manusia. Seperti orang kusta dalam Injil mereka juga berseru mohon disembuhkan.
Seruan seperti itu, terwakili misalnya dalam seruan seorang remaja putri
jalanan yang diberi kesempatan untuk berbicara
dengan Paus dalam kunjungannya ke Filipina baru-baru ini. Sesudah menceritakan
riwayat hidupnya sebagai anak jalanan, remaja putri itu berkata, “Bapa Suci,
mengapa Tuhan membiarkan anak-anak seperti kami ini dibuang oleh orangtua kami,
hidup di jalanan, dilecehkan tanpa ada yang membela kami ….”. Anak itu tidak
bisa menyelesaikan kalimatnya, hanya menangis keras. Dan Bapa Suci pun tidak
tahu harus berkata apa untuk menanggapi jeritan hati anak itu selain dengan
mendekapnya.
5. Rupanya kenyataan pinggiran seperti ini ada di mana-mana. Oleh karena itu
dalam Seruan Apostolik Sukacita Injil, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk pergi masuk ke
tengah-tengah kenyataan pinggiran dalam arti yang seluas-luasnya. Ia menulis,
“Sukacitanya dalam mewartakan Yesus Kristus diungkapkan baik dengan
kepeduliannya untuk mewartakan-Nya ke wilayah-wilayah yang lebih membutuhkan
bantuan maupun dengan senantiasa bergerak keluar ke daerah-daerah pinggiran dari wilayahnya sendiri atau
ke lingkungan sosial budaya yang baru” ( No. 30).
6. Kita boleh bersyukur karena di
keuskupan kita perutusan untuk pergi ke “pinggiran” semakin dikembangkan secara
kreatif. Kita yakin, sekecil apapun yang kita lakukan sebagai bentuk syukur dan
kepedulian kita, kita melakukannya dalam usaha kita untuk semakin mengikuti Yesus
Kristus, dan tentu saja dalam rangka mewujudkan ajakan Bapa Suci Fransiskus
untuk pergi ke pinggiran – dalam arti yang seluas-luasnya. Namun kita tidak
boleh berpuas diri, kita dipanggil untuk terus mengusahakan yang lebih lagi.
7. Akhirnya, marilah kita saling
mendoakan, agar kita masing-masing, keluarga-keluarga dan komunitas kita serta
seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta terus berkembang dan menjadi pribadi-pribadi,
keluarga dan komunitas yang semakin bersyukur serta peduli. Semoga semangat Gembala Baik Dan Murah Hati, semakin
mendorong kita semua untuk semakin kreatif mewujudkan syukur dan kepeduliaan
kita. Terima kasih atas berbagai peran
Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Para Imam dan Frater, kaum muda, remaja serta anak-anak
dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai bersama. Berkat
Tuhan selalu menyertai kita semua, keluarga-keluarga dan komunitas kita.
+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
No comments:
Post a Comment